Hei, Kemarilah Sebentar

Aku sudah ribuan kali menulis

Tentang hujan,langit, dank au

Anehnya aku tak pernah lelah

Aku tak pernah bosan

Walau subjek yang kuambil selalu sama

Ya,tapi objek yang di hatiku ini tidak sama

Atau aku bicara begini saja,

Tiap pagi aku memutar lagu yang sama

Tapi perasaanku mendengar lagu yang berbeda

Karena jika ingin kau tahu,

Cinta itu berbanding terbalik dengan logika

Seperti halnya dengan mol dan Molaritas

Hei, kemarilah sebentar

Aku memang tidak akan pernah mengatakan ini

Tapi aku ingin melihat matamu sebentar

Mata yang kusukai sepanjang mimpi

Sungguh, aku bahkan tidak bisa mengeksposisikannya

Hei,Kemarilah sebentar

Kadang aku merasa ingin kau mengenalku

Tapi itu kadang,

Seringnya tidak

Karena sepertinya aneh saja kalau kau

Benar-benar mengenalku

Karena biasanya aku selalu bersembunyi di sini, di tempatku

Tapi kalau suatu hari kau benar mengenalku,

Hal pertama yang akan kupamerkan adalah sahabatku

Sahabat paling hebat yang mungkin tak kau punya

Hei, kemarilah sebentar

Saat hujan terus-menerus turun,

Akan terjadi genangan air di tanah tempat kau berdiri

Atau saat aku terus-menerus menatap langit,

Mungkin cervicalesku akan nyeri

Apakah saat aku terus-menerus menyukaimu,

Akan ada genangan cinta dan luka di hatiku?

Apakah genangan itu akan terasa nyeri,

Tepat dikelima indera ku?

Hingga aku merasa tak ingin melihatmu lagi,

Ataupun hingga tak ingin mendengar suaramu lagi,

Karena ingatan itu membuatku berharap,

Meski aku sadar,

Aku tidak punya harapan

Advertisements