Ada Waktu

Ada waktu saat aku benar-benar bosan

Dan saat itu tanpa sadar  aku menulis namamu berulang-ulang

Ada waktu saat aku tersenyum sendiri melihat hal yang lucu,

Dan saat itu juga aku bertanya-tanya

Apakah kau juga akan tersenyum melihat ini?

Hei, Kemarilah Sebentar

Aku sudah ribuan kali menulis

Tentang hujan,langit, dank au

Anehnya aku tak pernah lelah

Aku tak pernah bosan

Walau subjek yang kuambil selalu sama

Ya,tapi objek yang di hatiku ini tidak sama

Atau aku bicara begini saja,

Tiap pagi aku memutar lagu yang sama

Tapi perasaanku mendengar lagu yang berbeda

Karena jika ingin kau tahu,

Cinta itu berbanding terbalik dengan logika

Seperti halnya dengan mol dan Molaritas

Hei, kemarilah sebentar

Aku memang tidak akan pernah mengatakan ini

Tapi aku ingin melihat matamu sebentar

Mata yang kusukai sepanjang mimpi

Sungguh, aku bahkan tidak bisa mengeksposisikannya

Hei,Kemarilah sebentar

Kadang aku merasa ingin kau mengenalku

Tapi itu kadang,

Seringnya tidak

Karena sepertinya aneh saja kalau kau

Benar-benar mengenalku

Karena biasanya aku selalu bersembunyi di sini, di tempatku

Tapi kalau suatu hari kau benar mengenalku,

Hal pertama yang akan kupamerkan adalah sahabatku

Sahabat paling hebat yang mungkin tak kau punya

Hei, kemarilah sebentar

Saat hujan terus-menerus turun,

Akan terjadi genangan air di tanah tempat kau berdiri

Atau saat aku terus-menerus menatap langit,

Mungkin cervicalesku akan nyeri

Apakah saat aku terus-menerus menyukaimu,

Akan ada genangan cinta dan luka di hatiku?

Apakah genangan itu akan terasa nyeri,

Tepat dikelima indera ku?

Hingga aku merasa tak ingin melihatmu lagi,

Ataupun hingga tak ingin mendengar suaramu lagi,

Karena ingatan itu membuatku berharap,

Meski aku sadar,

Aku tidak punya harapan

Teori dalam Sentuhan Hujan

Hujan merekam visual kalkulus antara kau dan aku

Agar suatu hari kita ingat,

Hujan pernah menkonversi rasa,

Menjadi rasa kuadrat

Sayangnya kau benci himpunan merepotkan

Semisal kau akan melintasi jalur a-b,

Kau akan pilih jalur c yang kau bangun sendiri,

Melalui tangan-tangan dalil phytagoras

Dan menurutmu,

Hujan itu merepotkan

Tapi aku justru kagum karena hujan mendengarku

Mereka memberiku bilangan asli,

Di mana aku tak akan temukan kekosongan

Tanpa alpha, absen, nol

Mereka memberiku tanda mutlak,

Yang mengubah bilangan negatif menjadi positif

Mengubah ketakutan menjadi ketenangan

Dan aku tahu kalau kita berbeda

Kau ada di sumbu y dan aku di sumbu x

Tapi bukankah absis ordinat selalu bertemu di koordinat?

Atau sesialnya kita berbeda koordinat,

Kita bisa saja bersinggungan, berpotongan, membentuk sudut

Itu selalu terjadi dalam dunia kita

Dunia yang berbeda tipis dengan Cartesius

Rasamu pada hujan memang cos 90o

Tapi rasaku padamu tidak terhitung

Karena untuk kasusmu,

Aku tak butuh trigonometri, geometri, atau –metri lain

Maka, sigmakan saja semua perasaanku

Atau deltakan quartil bawah dan atas pertemuan kita,

Berani taruhan nilainya besar

Karena semakin lama mengenalmu

Semakin jauh deretan angka yang berhasil kujelajahi

Lalu dari sekian banyak orang di sekelilingmu

Dari perhitungan n-faktorial peluangnya,

Tentu aku tak berharap banyak untuk kau pilih

Tapi bukalah matamu dan lihat aku

Sadarkah kau kalau aku orangnya?

Orang yang sangat mengenalmu

Lebih dari yang hujan sanggup ketahui