#ScenePhoto #NovelPhobia

Tanggal 13 Maret 2014 kemarin ada kuis phobia yang isinya semacam scene photo contest gitulah. Jadi, peserta akan mengirimkan foto atau gambar (boleh dari koleksi sendiri atau dari internet) yang berkaitan dengan adegan-adegan yang ada di Novel Phobia (Grasindo, 2013). Jadi, di halaman ini aku mau bikin semacam rangkaian foto sesuai alur yang ada di novel tersebut. Jadi, ini kerja sama antara aku sama teman-teman sekalian. Terima kasih yaaa sudah membaca dan mengapresiasi novel Phobia~

*Oh ya, karena novel Phobia pakai dua sudut pandang, Lee Joon-Ho (tokoh cowok) dan Jung Ji-Hye (tokoh cewek), jadi aku bedain di sini warna font-nya ya. Biru untuk Lee Joon-Ho dan Pink untuk Jung Ji-Hye 😀

[written by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg. 16]

[written by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg. 16]

karena aku mulai ingin menyerah.
mulai bingung.
harus bagaimana lagi agar kamu melihatku.
paling tidak menyadari bahwa aku ada di sini. Selalu.

 

[quoted from Phobia-pg.27]

[quoted from Phobia-pg.27]

Perjanjian FTA, entah itu perjanjian apa, yang jelas Seoul harus mengimpor semua daging sapi dari negara asing yang bersangkutan. Itu berarti termasuk yang terjangkit virus juga. Sebenarnya perjanjian ini menjadikan harga daging lebih murah, tapi kalau ada yang cacat di antara mereka, itu sama saja bohong.
“Kudengar pagi ini ada empat restoran daging yang ditutup karena positif menggunakan daging sapi gila!” sahut Jan-Di lagi.
“Apa? Apa namanya? Jangan bilang salah satunya adalah restoran langgananku,” gumam yang lain.
“Hmm….” Jan-Di mengingat-ingat. ”Restoran Ryeo-Wook, restoran Barbequel, restoran K&K, dan satunya lagi… aduh, itu lho restoran yang ada di dekat galeri Yeojin,” terang Jan-Di.
Seketika itu juga aku menahan napas, mungkin Ji-Hye juga. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ayah Ji-Hyetidak bisa bekerja. Ayahnya mempunyai enam anak yang menjadi tanggungannya (walaupun sekarang Eun-Kyung Nuna sudah mulai berpenghasilan). Sebelum aku memakan suapan terakhirku dan mendengar kelanjutan ucapan Jan-Di, aku berharap nama restoran itu bukan restoran Galbi-Oh!

[written by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg. 40]

[written by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg. 40]

karena tidak perlu penjelasan lebih.
aku hanya ingin membuatmu nyaman.
dan nyatanya pun,
perasaan itu telah ada.
ada.
jauh sebelum aku menyadarinya.

[quoted from Phobia-pg.109]

[quoted from Phobia-pg.109]

Aku mengecek SMS yang baru saja masuk. Dari Yun-Hee.

Kau tahu tidak? Kudengar dari para cheerleader, Joon-Ho datang ke Kumdori. Berhati-hatilah!

JOON-HO? Aku mengerjap dua kali untuk memastikan ancaman terbesarku benar-benar ada di sini. Joon-Ho? Ada di sini? Bagaimana ini? Ya ampun, aku ingin pulang saja. Aku ingin pulang sekarang juga!
Tapi meski aku takut saat bertemu dengannya dan merasa lebih baik jika aku pulang saja, aku penasaran dengan siapa Joon-Ho datang kemari dan alasan dia kemari. Apakah dia datang bersama Eun-Seol? Apakah untuk kencan dan memperbaiki cintanya yang pernah retak itu?

[by Anisa Krisna Murti, quoted from Phobia-pg.109]

[by Anisa Krisna Murti, quoted from Phobia-pg.109]

Kumsuni kuning melambai-lambaikan tangannya, memberi isyarat agar aku mendekatinya. Aku menunjuk diriku sendiri untuk memastikan isyarat itu lalu Kumsuni mengangguk-angguk. Aku kegirangan dalam hati karena merasa dipanggil badut lucu ini. Jadi, aku segera berlari ke arahnya. Dari dekat wajahnya terlihat lebih lucu. “Ada apa, Kumsuni-ssi?” tanyaku sambil tersenyum.
“Ah, aku ingin bertanya, Nuna,” jawabnya. “Kenapa… Kenapa kau takut pada Lee Joon-Ho?” ucapnya.
JDEERR!
Seketika senyumku luntur mendengar nama itu. Kenapa Kumsuni menanyakan itu? Siapa orang ini?

[by  Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg.109]

[by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg.109]

kamu. titik.
cuma kamu.
cukup untuk jadi alasan aku berbuat hal-hal konyol ini.
cukup untuk jadi alasan aku berbuat hal-hal yang tak kubayangkan.

[by Wulaningsih Trisna Putri, based on Phobia-pg.109]

[by Wulaningsih Trisna Putri, based on Phobia-pg.109]

“Kenapa kau takut pada Lee Joon-Ho?”
-karena rasa ini tumbuh dari hati dan melumpuhkan logikaku. Ya, sesederhana itu-

[by Cecilia Tjia, based on Phobia-pg.151]

[by Cecilia Tjia, based on Phobia-pg.151]

Tiba-tiba ada mobil sedan hitam melesat dengan kecepatan tinggi dan suaranya menderu melawan hujan. Dan sialnya, ada genangan air di dekat kami. Seketika itu juga, entah apa yang kupikirkan, aku mendorong Ji-Hye ke tembok jalanan untuk melindunginya dan tangan kiriku menyentuh tembok. Sedangkan tangan kananku masih memegang payung. Aku mengunci Ji-Hye. Bahkan saat sedan itu sudah berlalu, posisi kami masih sama.
Jarak antara aku dan Ji-Hye sudah bukan dekat lagi, tapi sangat dekat. Air di rambut basahku bahkan menetes mengenai kening Ji-Hye. Kening itu… wajah itu… wajah yang selalu muncul di pikiran dan di hatiku. Walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi, jika benar penyebab Jeong-Tae melepaskan Ji-Hye adalah aku, apakah aku harus merasa bersalah? Apakah aku benar-benar tidak diizinkan untuk menyukai Ji-Hye? Apakah menyukai Ji-Hye adalah sebuah kesalahan untukku?
“Saranghae ,” ucapku tak bisa kucegah lagi, pelan tapi cukup terdengar.

[by  Amirah Farah Fawziyyah, based on Phobia-pg.168]

[by Amirah Farah Fawziyyah, based on Phobia-pg.168]

Halaman Ketiga
Ada yang pernah bilang padaku, bahwa melupakan segalanya lebih baik daripada harus mengingat sesuatu. Karena kadang ingatan itu membuat hatimu sakit.
Tapi saat aku melupakan sesuatu, aku berusaha untuk terus mengingat karena aku merasa ada yang hilang dari perasaanku. Dan ternyata ini lebih sulit daripada harus mengingat materi pelajaran yang hilang dari pikiranku. Ini tidak masuk akal. Tapi aku benar-benar lupa.
Saat kusadar, yang kutahu hanyalah kenyataan bahwa aku kehilangan sesuatu. Bahwa aku merindukan sesuatu. Dan perasaan yang kosong. (Jiyhe’s Diary)

[written by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg.203]

[written by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg.203]

janji yang belum sempat kau tepati.
tapi aku dapat membayangkannya,
segelas tiramisu yang ingin kau buat untukku,
pasti rasa manisnya tidak akan berlebihan.

[quoted from Phobia-pg.184]

[quoted from Phobia-pg.184]

“Jangan bilang begitu, Joon-Ho. Lebih dari yang kau tahu, Ayah sangat menyayangi kita. Seberapa besar pun Ayah marah padaku, Ayah masih sering membanggakanku di depan rekan kerjanya. Dan juga… maafkan aku Joon-Ho.”
Hyung beranjak dari tempat tidurku dan pergi ke arah pintu.
“Karena aku pergi untuk menjadi dokter, kau menderita.
Kau menjadi sasaran Ayah selanjutnya. Maafkan aku, inikesalahanku. Kalau saja aku berani menerima beban itu, kau tidak akan bermasalah dengan Ayah juga. Maafkan aku….”
Pintu tertutup. Hyung pergi. Dengan sendirinya aku merasa sangat berdosa sudah membentak Ayah. Dengan sendirinya pikiranku memutar ulang kejadian saat-saat sebelum aku bertemu dengan Eun-Seol di rumah sakit. Waktu itu aku bertemu Ayah dan rekan-rekan kerjanya.
Aku menyadari bahwa sebenarnya waktu itu aku mendengar,samar-samar pembicaraan mereka. Aku mendengar Ayah bicara, Ayah yang ternyata cukup mempedulikan kami.
“Kau lihat anak laki-laki yang membantu profesor tadi, Mr.Kim? Dia adalah Lee Young-Ho. Anak sulungku yang hebat,”ucap Ayah.
“Benarkah? Wah, hebat sekali. Aku terkesan. Dia terlihat sangat professional. Lalu bagaimana dengan si bungsu Lee Joon-Ho, Mr.Lee?” tanya Mr. Kim tertarik. ”Tunggu dulu….”
Saat itu aku mendengar suara sepatu mahal semakin mendekat ke arahku.
“Mr. Lee, bukankah itu putramu? ”ucap sebuah suara berat, suara Mr. Kim.

[quoted from Phobia-pg.185]

[quoted from Phobia-pg.185]

“Joon-Ho!” teriakku.
Aku menelusuri atap sekolah dan menemukan Joon-Ho sedang berdiri membelakangiku. Dia berdiri di depan pagar penyangga dan menghadap ke arah lapangan sepak bola sekolah.
“Kau….” Aku berhenti mengambil satu jeda untuk bernapas.
”Aku mencari… huh… Mr. Shin—”
Kalimatku terhenti. Dari atas sini aku bisa melihat senior Park Jong-Hun bermain sepak bola. Astaga! Itu senior Jong-Hun! Sejak dulu aku ingin sekali mengamati senior dari tempat tersembunyi. Dan inilah tempatnya! Oh, hebat!
“Wae? Kenapa?” tanya Joon-Ho.
“Eh, itu… Hehehehe. Aku ingin melihat senior Jong-Hun sebentar. Temani aku ya? Ya ya ya?” pintaku.
“Kau kan bisa mengamatinya sendiri,” kata Joon-Ho tidak peduli, hendak beralih.
“Jangan! Aku takut ada di tempat tinggi sendirian!”Joon-Ho tertawa menghina.
“Kau ini… aku lupa nama tengahmu adalah phobia. Memangnya siapa yang sebenarnya jadi incaranmu? Jeong-Tae atau Jong-Hun Hyung?”
“Diam kau! Ini bukan masalah mengincar tau!”

[quoted from Phobia-pg.239-240]

[quoted from Phobia-pg.239-240]

Komentator mulai berseru tegang, ”Daaaaaan… masuuuk!”
Arena Jamsil riuh dengan tepuk tangan penonton dari kedua kubu.
“Benar-benar pertandingan luar biasa! Dan juara Seoul High Tournament musim ini diraih oleh… SMU Yuseooooong! Selamat! Selamat!” lanjut komentator dengan suara lantang.
Ji-Won langsung terduduk di lantai begitu bolanya masuk ke ring pada detik akhir. Dia memukul-mukul lantai dengan frustasi. Berhasil atau tidaknya tembakan terakhirnya tadi sama sekali tidak berpengaruh pada hasil kemenangan. Papan skor menunjukkan 85-92. Kemenangan mutlak untuk Yuseong.
Aku mengulurkan tangan untuk Ji-Won. Dia menatapku dengan tatapan nanar. Tidak apa-apa. Untuk pertama kalinya, aku bangga pada Ji-Won.
“Ayo berdiri dan beri salam pada mereka,” kataku sambil mengangkatnya agar dia bangkit.
Aku dan Ji-Won berdiri menatap para penonton yang meneriakkan nama kami. Aku berdiri menatap Ji-Hye yang meneriakkan namaku dan bertepuk tangan untukku.

[quoted from Phobia-pg.247]

[quoted from Phobia-pg.247]

Saat senggang seperti ini, daripada main game Basketball Machines di ponsel dan dapat
nilai lay-up palsu melulu, aku lebih suka main basket dalam bentuk asli. Tapi tidak mungkin juga aku mendribel bola di dalam bus.
Saat aku akan menyentuh layar ponsel untuk memasukkan bola, ponselku bergetar. Ada dua SMS. Yang pertama dari Ibu yang menanyakan kabar dan mengingatkan aku untuk
makan siang padahal jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan yang kedua SMS dari Yun-Hee.

Joon-Ho, kau sudah sampai di mana? Kau kan nomor 1. Aku sudah sampai padahal aku ada di nomor 2.

Aku segera menyibak tirai lalu kulihat jalanan panjang dan pepohonan. Kami masih ada di jalan. Benar juga, aku naik bus nomor 1, seharusnya aku sampai duluan.

[quoted from Phobia-pg.248]

[quoted from Phobia-pg.248]

Aku segera menyibak tirai lalu kulihat jalanan panjang dan pepohonan. Kami masih ada di jalan. Benar juga, aku naik bus nomor 1, seharusnya aku sampai duluan.
“Miss Chloe!” panggilku sambil menghampirinya. ”Kita ada di mana? Rombongan yang lain sudah sampai di Hahoe.”
Teman-teman yang lain ikut menyibakkan tirai dan mereka teperangah karena belum ada tanda-tanda kami sudah mendekati jalanan desa Hahoe.
“Oh, kenapa… kita ada di… apakah itu paviliun Sangbong?”tanya Min-Ho terperangah. Kenapa kita sampai di tempat ini? Desa Hahoe terpisahkan oleh sungai Naktong dengan posisi kami saat ini.
Miss Chloe terkejut. Bahkan Im Tak Goo-sopir bus-juga terkejut dengan jalanan asing di depan kami.
Oke. Jadi, kami tersesat. Salah jalan.
Miss Chloe segera menghubungi Kepala Sekolah dan kami mulai ribut di dalam bus.
“Anak-anak, kata Mr. Jeong kita bisa ke Hahoe lewat sini dan menuju ke Hwacheon Seowon, tapi setelah itu kita harus naik kapal feri. Jadi terpaksa kita harus rela lewat jalur darat. Bagaimana kalau kita berjalan saja hingga kantor polisi Pungcheon dan bus nomor 2 yang sudah tiba di Hahoe akan menjemput kita di sana?” tanya Miss Chloe memberikan solusi.

[quoted from Phobia-pg.254-255]

[quoted from Phobia-pg.254-255]

“Kenapa kau takut pada jembatan? Mereka tidak hidup! Tidak akan memakanmu atau mengikatmu, dan melemparkanmu ke sungai,” kataku pasrah.
“Kalau aku lewat jembatan, aku selalu merasa jembatan itu runtuh. Aku tidak bisa, Joon-Ho. Aku takut. Aku tidak bisa sejak aku hampir mati saat kecelakaan jembatan Seongsu,” jawabnya, kini aku melihat dia benar-benar menangis. Dia seperti orang yang akan mati saja.
Baiklah, jadi jembatan Seongsu runtuh tahun 1994. Itu berarti sudah 14 tahun yang lalu. Dan Ji-Hye masih takut pada jembatan hingga saat ini? Memangnya saat dia berumur dua
tahun dia sudah bisa mengingat?
“Kau tidak ingin ke Hahoe?” tanyaku, berjalan mendekatinya.
“Aku ingin… tapi aku tidak mau kalau harus melewati jembatan. Aku hanya berani melewati jembatan dengan mobil.”
Aku berdecak kesal. ”Jadi kita harus mencegat taksi dan minta diantarkan ke seberang saja. Begitu?”
“Aku takut, Joon-Ho! Aku tidak berani!” pekik Ji-Hye putus asa.
“Kenapa harus takut? Kan ada aku di sini,” ucapku menenangkannya.

[by Mayada Rakhmima Karizki, quoted from Phobia-pg.255-256]

[by Mayada Rakhmima Karizki, quoted from Phobia-pg.255-256]

Ji-Hye menatapku penuh arti sejenak dan mulai menangis lagi. Ya ampun, dia ingin ke sebrang tapi takut pada jembatan. Hhh… mau bagaimana lagi. Aku menghela napas panjang sebelum jongkok dan memunggungi Ji-Hye.
“Ayo ku gendong! Akan kugendong sampai ke sebrang dan tutup matamu hingga sampai ke jembatan. Aku jamin kau akan baik-baik saja,” pintaku.
“Aku tidak akan baik-baik saja! Jembatannya akan runtuh! Aku akan mati!” Teriak Ji-Hye, sangan berpendirian pada imajinasi konyolnya.
“Hhh… baiklah, Ji-Hye. Kalaupun harus mati, aku akan mati menemanimu!” Aku tidak percaya akan meladeni imajinasinya.

[by  Amirah Farah Fawziyyah, based on Phobia-pg.269]

[by Amirah Farah Fawziyyah, based on Phobia-pg.269]

Aku menyentuh layar ponselku berkali-kali, membaca halaman demi halaman. Puisi demi puisi. Hingga mataku tertumbuk pada larik puisi berjudul #625th Script.

Kadang aku pernah mencari alasan
Mengapa aku bisa takut padamu?
Dan sampai sekarang pun aku masih tak bisa menemukannya

Tidak ingin membuang waktu, segera kulanjutkan pada skrip berikutnya. #626th Script.

Kadang aku pernah mencari alasan
Mengapa aku bisa menyukaimu?
Dan sampai sekarang pun aku masih tak bisa menemukannya

Aku menutup mulut karena terkejut. Ya, memang benar. Memang Joon-Ho orangnya.Inilah alasan kenapa aku merasa kehilangan banyak kenangan saat aku melupakan ingatan tentang Joon-Ho.

[by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg. 272]

[by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg. 272]

tanpa kusadari
aku sudah menyayangimu jauh sebelum aku benar-benar paham
justru mereka yang dengan gamblangnya menyatakan perasaanku padamu
dan aku tetap di sini, berjalan, tanpa pernah benar-benar paham

[by  Amirah Farah Fawziyyah, based on Phobia-pg.272]

[by Amirah Farah Fawziyyah, based on Phobia-pg.272]

Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan segera memasukkan password baru ke dalam kotak. Beberapa detik setelah itu aku melihat layar ponselku menunjukkan dasbor tumblr. Passwordnya… berhasil.
Aku tertawa sambil menghapus airmataku. Ya Tuhan… aku menulis password itu di hari di mana aku melupakan segalanya.
nomorpunggung1.
Itu Joon-Ho. Seragam basket Joon-Ho bernomor punggung 1

[by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg.275]

[by Samantha Rahma Utami, based on Phobia-pg.275]

“cinta memang banyak bentuknya
mungkin tak semua
bisa bersatu” – sepatu by tulus
ost buat jong tae

[by Hana Shofiya Brian P., quoted from Phobia-pg.284-286]

[by Hana Shofiya Brian P., quoted from Phobia-pg.284-286]

Saat aku berhasil ke luar dari barisan rombongan, aku tertegun. Aku terdiam di tempatku berdiri. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ji-Hye menyeberang jembatan Weolyeong! Akhirnya dia punya keberanian untuk melawan phobianya itu. Tapi… tunggu… apakah dia menutup mata?
“Ji-Hye! Hei, Ji—“
Ji-Hye berhenti berlari tepat di depanku dan benar-benar nyaris menabrakku.
“Joon-Ho! Aku berhasil! Aku ada di atas jembatan!”
teriaknya bahagia setelah membuka mata.
Aku tersenyum. Ya, benar. Dia sudah lebih berani sekarang.
Tidak masalah jika aku tidak dibutuhkan Ji-Hye lagi untuk menolongnya. Aku merasa sangat lega karena Ji-Hye bisa menyeberangi jembatan. Dan saat Ji-Hye berlari tadi, rasanya dia berlari ke arahku, rasanya dia sudah lama menungguku, berlari ke arahku, dan aku menantinya di sini.
Berada di dekat Ji-Hye yang penakut membuatku belajar untuk takut juga secara tidak langsung. Parahnya, aku baru menyadari bahwa aku mulai belajar merasa takut saat
membayangkan aku kehilangan Ji-Hye.